Sabtu, 28 Juli 2012

Timnas Kalah Telak Uji Coba Dengan Malaysia

Timnas Kalah Telak Uji Coba Dengan Malaysia - Saling menyalahkan oleh karena merasa benar sering kita lihat dalam perseteruan antar orang/kelompok di negeri ini. Akhirnya itu banyak ditiru dan lalu menjadi budaya baru, budaya yang kontraproduktif. Kemudian kebiasaan seperti itu merambah dalam hal pencapaian target/usaha. Kalau gagal selalu memasang bermacam tameng alasan, ini kan sama dengan merasa benar.

Tengok saja bagaimana pelatih timnas mengomentari kekalahan 6 : 0 oleh Malaysia dalam laga uji coba yang baru lalu. Isinya kalimat - kalimat pembelaan, tidak ada kalimat yang menyatakan secara jantan ini adalah kegagalan. Padahal kalau saja mau mengakui kegagalan, ini langkah awal kearah yang lebih baik. Bukankah kegagalan itu awal kesuksesan.


Mengakui kegagalan menjadi tabu sekarang ini. Dimaklumi itu karena adanya ketakutan tersingkir atau disingkirkan. Dan Ketakutan - ketakutan tersingkir atau tidak dipakai lagi sekarang sudah bisa mengalahkan sikap kearah perbaikan, karena oleh ketatnya persaingan dan makin susahnya kemudahan akses memperoleh pekerjaan dilahan lain, dimana itu akan mempengaruhi tingkat pemenuhan kebutuhan itu yang kian tidak mudah didapatkan kalau tidak ada uang didompet. Selebihnya faktor persoalan nama.

Inilah kelemahan mendasar dalam budaya bangsa, sehingga kita terus saja dijajah/ menjadi bulan - bulanan bangsa asing. Tidak berdaya dengan emas di Papua, terpedaya melepas tawanan narkoba australia yang malah menghadiahkan australia diberi tempat berinvestasi di ntb. Lucunya dijadikan sebagai proyek lumbung ketersediaan daging domestik untuk kebutuhan daging nasional. Bukan menggandeng pengusaha dan peternak daging beserta balai - balai riset mengembangkan itu disana.

Bavetline Agen Judi Bola Terpercaya - Mungkin dianggapnya orang domestik berkecimpung di sapi, o’on semua. Atau sudah tipis kepercayaannya pada kemampuan bangsa sendiri setipis kulit bawang. Atau atau lainnya. Yang jelas yang tampak dipermukaan seperti itu. Ini menunjukkan model pembangunan serabutan tanpa konsep. Nanti diujungnya gagal (semoga sih tidak sampai gagal ya), kembali saling membela diri saling menyalahkan oleh karena merasa benar. Sori melebar dari judul, cuma pas saja nyambung kesana, apa yang terjadi, suasana di tubuh PSSI. Walaupun melihatnya dari kejauhan.

Hasil dari berbagai laga baik resmi maupun uji coba yang tidak memberikan kepuasaan dalam arti mampu memberikan setitik saja kebanggaan, ini tidak baik bagi pemain - pemain dilapangan, akan merusak perkembangan sikologinya sehebat apapun obat semangat diminumkan pada mereka. Padahal mereka adalah bibit unggul yang siap dicetak. Kalau sikologi rusak, maka akan merusak kemampuan skill dan intelejensianya yang lagi diasah. Pengobatannya itu sebenarnya sederhana, yaitu mau mengakui kegagalan.

Mengakui kegagalan bukan berarti menjadi kehilangan muka, atau kehilangan kesempatan segala - galanya. Justru sebaliknya, sama dengan dengan menyiapkan kunci pembuka pagar hati, pikiran dan telinganya, untuk siap mempersilahkan pendapat, masukan, saran menyambangi telinga, pikiran dan hatinya. Jadi bukan sebaliknya, selalu saja melemparkan pembelaan - pembelaan atau kalimat - kalimat yang sekedar menenangkan diri sendiri tapi bikin yang lain tidak tenang. Namun kenyataan memanglah demikian adanya, orang selalu membela diri, mungkin dengan begitu dirinya merasa nyaman. Bavetline Agen Judi Bola Terpercaya

Sikap yang demikian hanya nyaman buat pribadi tidak aman dalam tahapan pencapaian satu proses target yang mau dicapai. Artinya konteks keinginan yang dituang dalam sebuah konsep menjadi sia - sia, cuma menghabiskan umur tanpa pernah meraih hasil selama bersikap dalam kubangan egosentris.

Masih adakah keinginan sungguh memajukan putra - putra bangsa dikancah sepak bola?

0 komentar

Posting Komentar